Nama kitab: Terjemah Qowaidul I’lal, Qawaid al-I'lal fis Sharfi, Qawaidul Iklal, Qowaidul Ilal, Kawaidul I'lal
Penerjemah:
Bidang studi: Ilmu gramatika bahasa Arab, Ilmu sharaf, shorof, morfologi
Sebuah blog yang menjadi tempat belajar bahasa Arab online, di blog ini penulis menyajikan ilmu nahwu, sharaf, dan beberapa materi yang berhubungan dengan cara belajar Bahasa Arab yang efisien dan mudah.
Nama kitab: Terjemah Qowaidul I’lal, Qawaid al-I'lal fis Sharfi, Qawaidul Iklal, Qowaidul Ilal, Kawaidul I'lal
Kitab Syarah Ibnu Aqil (شرح ابن عقيل) merupakan salah satu kitab yang menjadi penjelas dari nadzom Alfiyah ibnu Malik (الفية ابن مالك). Di Indonesia sendiri, banyak sekali pesantren yang menjadikan nadzom alfiyah yang berjumlah ini sebagai hafalan wajib bagi santri-santrinya. Kitab Syarah Ibnu Malik merupakan kitab karangan Syekh Bahauddin Abi Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Aqili (الشيخ بهاء الدين أبي عبد الله بن عبد الرحمن بن عبد الله العقيلي).
Alfiyah Ibnu Malik (ألفية ابن مالك) atau lengkapnya adalah Al-Khulasa al-Alfiyya adalah buku syair (berirama) tentang tata bahasa Arab dari abad ke-13. Kitab ini ditulis oleh seorang ahli bahasa Arab kelahiran Jaén, Spanyol yang bernama Ibnu Malik (w. 672 H /22 Februari 1274 M).[1] Bersama dengan kitab Al-Ajurrumiyah, Kitab Alfiyah adalah di antara kitab dasar untuk dihapalkan bagi santri di pesantren selain Al-Qur'an.
Kitab ini setidaknya memiliki 43 kitab penjelasan (syarah) dan merupakan salah satu dari dua buku dasar pendidikan bahasa Arab untuk pemula dalam masyarakat Arab hingga abad ke-20. Ketika pada abad ke-20, kurikulum pendidikan mulai tergeser dengan kurikulum kolonial, seperti masuknya kurikulum sekolah Prancis untuk kasus yang terjadi di Maroko.[2]
LINK DOWNLOAD TERJEMAH KITAB ALFIYAH IBNU MALIK :
Kitab Nahwu yang diajarkan di Pondok Pesantren Indonesia adalah kitab Nahwu Wadhih, yang merupakan karya dari dua pakar bahasa dari Mesir, yaitu DR. Ali Al-Jarimi dan DR. Musthafa Amin. Kitab ini digunakan sebagai bahan ajar untuk santri dari kelas II sampai kelas VI di pondok pesantren tersebut.
Meski tidak setenar kitab Alfiyyah, al-Imrithy, atau Jurumiyyah, kitab Nahwu Wadhih memiliki keunggulan yang tidak bisa dipandang remeh. Kitab ini memiliki sistematika penulisan yang sistematis dan bertahap antar babnya, sehingga santri dapat memahami materi dengan lebih mudah dan terstruktur.
Keunggulan kitab ini yang paling menonjol adalah banyaknya contoh dan variasi contoh kalimat yang begitu variatif. Hal ini sangat membantu santri untuk memahami dan menerapkan kaidah-kaidah nahwu dengan lebih baik. Selain itu, susunan bahasa yang mudah dipahami dan kaidah yang disertakan sesudah penjelasan membuat kitab ini sangat mudah dipelajari oleh santri .
Di akhir tiap bab, terdapat latihan-latihan yang sangat memadai yang dapat membantu santri untuk mempraktikkan materi yang telah dipelajari. Selain itu, cara mengi’rob kalimat dan contoh-contohnya juga sarat dengan nilai pendidikan, sehingga santri tidak hanya dapat memahami materi nahwu dengan baik, tetapi juga dapat memperoleh nilai-nilai pendidikan yang positif dari kitab ini.
Berikut adalah beberapa keunggulan kitab Nahwu Wadhih dan penjelasan singkatnya;
Banyak contoh.
Kitab Nahwu Wadhih memiliki banyak contoh yang menjelaskan kaidah-kaidah nahwu dengan jelas dan mudah dipahami. Contoh-contoh ini sangat membantu santri untuk memahami kaidah-kaidah tersebut dan menerapkannya dalam pembuatan kalimat. Selain itu, contoh-contoh yang ada di dalam kitab Nahwu Wadhih juga cukup beragam sehingga santri dapat lebih memahami konsep-konsep nahwu dengan lebih baik.
LINK DOWNLOAD KITAB NAHWU WADHIH :
Qawaidul Imla' adalah kaidah-kaidah menulis secara konvensional dalam bahasa Arab. Ilmu Rasm menyebut kaidah ini dengan Rasm Qiyasi.
Identitas Kitab:
Ilmu nahwu dan sharaf seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana dikatakan dalam ungkapan populer di lingkungan pesantren. Nahwu dianggap sebagai bapak ilmu-ilmu, sementara Sharaf adalah ibunya. Seolah-olah, keduanya saling melengkapi untuk membentuk fondasi kokoh bagi pemahaman ilmu syariah, khususnya dalam membaca kitab turats berbahasa Arab.
Ilmu nahwu menjadi kunci untuk memastikan ketepatan susunan kata dalam kalimat Arab, sedangkan ilmu sharaf mempelajari perubahan bentuk kata dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Keduanya bersatu dalam keharmonisan gramatika Arab, membantu pemahaman dan penafsiran teks-teks kitab turats dengan lebih baik.
Salah satu kitab yang kerap menjadi panduan bagi pemula dalam mempelajari ilmu sharaf adalah "al-Amtsilah at-Tashrifiyah." Dikarang oleh KH Muhammad Ma’shum bin Ali pada usia 19 tahun, kitab ini menjadi pedoman awal para pelajar pemula di pesantren. KH Ma’shum, yang lahir di Maskumambang, Gresik, merupakan menantu dari Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dan wafat pada 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933.
Kamus Al-Munawwir merupakan sebuah kamus bahasa Arab-Indonesia yang merupakan kamus bahasa Arab yang terkenal di Indonesia. Kamus ini telah banyak digunakan oleh para penuntut ilmu (thullabul Ilmi) untuk mengetahui arti kosakata Arab ke dalam bahasa Indonesia, khususnya dalam perbendaharaan kosakata terjemahan kitab kuning. Kamus ini termasuk dalam kamus dengan penjualan yang cukup banyak di Indonesia karena telah dicetak berulangkali dan dicetak sekitar 10 ribu-15 ribu eksemplar pertahun.[1] Kamus ini sangat populer di Indonesia karena termasuk kamus yang sangat komplet, bahkan kamus ini juga beredar di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Kenapa sampai ke sana, karena mempunyai kesamaan bahasa yaitu bahasa Melayu dan bahasa Indonesia yang pada hakikatnya sama persis, namun ada sedikit berbeda istilah-istilah tertentu dan dialegnya. Di samping kamus al-Munawwir yang merupakan kamus besar dan tebal, ada kamus lain yang cukup tipis halamannya seperti kamus Arab-Indonesia karya Prof. Mahmud Yunus. Setelahnya banyak bermunculan kamus-kamus lain. Tak lupa, di Krapyak, Yogyakarta, juga ada penulis kamus Arab-Indonesia berjudul al-Asyri yakni KH. Atabik Ali dan Muh. Zuhdi Mudhlor dengan tebal sekitar 2500 halaman, kamus ini ditulis dengan sistem alfabet bukan dari akar kata. Dalam perkembangannya, kamus al-Munawir mengeluarkan edisi Indonesia-Arab-nya untuk menyesuaikan kebutuhan dari pemakainya.
Bisa membaca dan memahami kitab gundul merupakan jembatan santri untuk bisa memahami kitab-kitab lainnya, termasuk bisa berbahasa Arab. Mempelajari bahasa arab merupakan bagian dari mempelajari bagian dari agama, sebagaimana ungkapan motivasi dari Umar bin Khattab ra
“Ta’llamul Arabiyyata fainnahu min dinikum, (belajarlah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian)”.
Kalimat motivasi dari Umar bin Khattab ra di atas adalah kalimat untuk mempelajari bahasa Arab dan biasa ditemukan di awal kitab-kitab gramatika bahasa Arab, terutama fan nahwu dan sharaf yang menjadi dasar darinya.